<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" ><generator uri="https://jekyllrb.com/" version="4.4.1">Jekyll</generator><link href="https://ahnaf.space/feed.xml" rel="self" type="application/atom+xml" /><link href="https://ahnaf.space/" rel="alternate" type="text/html" /><updated>2026-10-04T23:23:06+07:00</updated><id>https://ahnaf.space/feed.xml</id><title type="html">ahnafhadii</title><subtitle>Seorang tech-entusiast yang saat ini sedang mendalami dunia ServiceNow, DevOps Engineering, dan AI Engineering. Halaman ini adalah ruang bagi saya untuk belajar, berbagi, bereksperimen, dan menuangkan hal-hal yang menarik perhatian saya.</subtitle><entry><title type="html">Backpackeran ke Bandung #1</title><link href="https://ahnaf.space/blog/bandung-satu.html" rel="alternate" type="text/html" title="Backpackeran ke Bandung #1" /><published>2020-08-03T11:23:00+07:00</published><updated>2020-08-03T11:23:00+07:00</updated><id>https://ahnaf.space/blog/bandung-satu</id><content type="html" xml:base="https://ahnaf.space/blog/bandung-satu.html"><![CDATA[<p>Berawal dari kecerobohan teman saya, lalu menjadi sebuah ‘keuntungan’ bagi saya. Memang tidak disangka – sangka, hari pertama masuk kuliahnya bisa jadi harus terundur akibat Dia salah memilih hari dalam membeli tiket. Akhirnya, Dia pun harus membeli lagi tiket ke Bandung di hari sebelum Dia masuk kuliah. Lalu keuntungannya untuk saya? Ya, tiket yang sudah terlanjur dia beli sebelumnya diberikannya ke saya secara cuma - cuma untuk menjelajah di kota itu. Loh emangnya bisa ya tiket digunakan orang lain? Jadi teman saya ini tidak menggunakan moda kereta api, melainkan bus travel yang dalam verifikasi keberangkatannya-pun cukup mudah, yaitu dengan hanya memberikan nomor pin yang sudah tertera pada tiket.</p>

<p>Bukan kali pertama saya ke Bandung, tetapi tetap saja ada hal yang selalu menarik saya kembali ke kota itu. Sudah lama sekali saya berencana ingin kembali menjelajahi kota Bandung. Namun, sudah bisa ditebak, semua rencana berakhir dengan  wacana. Dan berkat teman saya ini, Bapuk panggilannya, akhirnya saya menjelajahi kota Bandung tanpa rencana.</p>

<p>11 Februari 2020 / 20:30, tanggal dan jam keberangkatan yang tertera pada tiket. Saya pun bergegas menyiapkan barang – barang, lalu langsung menuju pool travel pada pukul 7 tepat dengan menggunakan ojek ke stasiun, disambung moda Kereta Rel Listrik. Untuk mencapai pool travel hanya tinggal jalan kaki tidak lebih 500 meter dari stasiun Tanjung Barat. Pukul 8 lewat dikit saya tiba di pool, dan pada pukul 20:30 tepat bus travel pun berangkat menuju kota tujuan. Satu hal yang cukup membuat saya kaget pada saat itu, bus elf yang terdapat kurang lebih 20 kursi, hanya di tempati 6 kursi termasuk supirnya. Tentunya sebagai penumpang, saya sangat diuntungkan pada saat itu karena bisa pindah mencari tempat ternyaman di antara kursi yang kosong.</p>

<p>Pukul 11:25 saya tiba di Bandung, tepatnya di Jalan Suropati, tempat pemberhentian terakhir bus travel yang saya naiki. Tak lama setelah itu, Bapuk tiba dengan motor pinjaman dari temannya, tanpa membawa STNK. “Udah malem, santai gaada polisi,” katanya. Satu hal yang dominan di pikiran saya pada saat itu adalah, langsung mencari angkringan untuk sekadar <em>ngaso, ngopi, ngerokok</em>, sambil menghangatkan badan karena badan saya mulai merasa kedinginan, entah karena masih beradaptasi dengan suhu di Bandung atau akibat duduk di bawah AC selama di bus. Tapi, mencari angkringan di kota Bandung agaknya tidak semudah mencari angkringan di Jogja. Akhirnya kami pun berhenti di lapak roti bakar di pinggir Jalan Supratman, seberang Masjid Pusdai. Memesan roti bakar dan coklat panas mungkin bisa membantu menghangatkan tubuh lagi. Setelah makanan yang kami pesan sudah habis semua dan dirasa badan sudah kembali hangat, kami pun kembali jalan menuju rumah kontrakan di Jl. Suryalaya IV, tempat Bapuk bersama teman - temannya mengontrak. Rumah itu juga sekaligus menjadi tempat saya menginap selama saya di Bandung.</p>

<p>Hari pertama di Bandung, menjadi hari yang paling membingungkan, dimana saya yang pergi ke sana tanpa rencana harus menyusun rencana – rencana yang akan saya kerjakan di sana. Terlebih lagi, menyesuaikan dengan jadwal Bapuk yang harus menjalankan kewajibannya dulu, kuliah. Tentunya saya juga pergi kesana bukan tanpa beban, saya masih memiliki beberapa tanggung jawab yang harus saya selesaikan, yang artinya saya juga harus menyusun rencana untuk menyiasati hal tersebut agar rencana liburan saya tidak bentrok dengan kerjaan - kerjaan saya.
Singkat cerita, rencanapun sudah selesai saya buat. Hari pertama saya biarkan berjalan apa adanya, mengikuti keinginan hati saya dan juga melihat isi dompet saya. Hahahaha. Dan akhirnya saya putuskan menghubungi teman saya yang juga temannya Bapuk yang ada di Bandung, lalu mengajaknya bertemu. Pada hari itu juga, kami janjian untuk bertemu. Kebetulan juga tidak jauh dari tempat kami bertemu, ada jalan yang cukup terkenal di Bandung yaitu Jalan Buah Batu. Sepulangnya dari sana, untuk sekadar jalan kaki di Jl. Buah batu menjadi hal cukup memuaskan bagi saya karena bisa memerhatikan dinamika kota Bandung yang sangat heterogen dari perspektif Jalan Buah Batu. Dan kebetulan cuaca sedang sejuk – sejuknya karena pada saat itu kota Bandung baru selesai diguyur hujan, membuat saya ingin berlama – lama berada di Jalan itu.</p>

<p>Keesokan harinya, saya mulai menjalankan rencana – rencana yang telah saya buat, dengan menyewa sebuah sepeda motor matic sebagai kendaraan yang akan saya dan Bapuk gunakan untuk menjelajah. Sekitar jam 6 pagi kami mengambil motor di kawasan Batununggal yang sudah kami book lewat chat semalam. Lalu, langsung bergegas menuju Curug Tilu Leuwi Opat, tujuan utama dan pertama kami yang berada di kabupaten Bandung Barat, berjarak kurang lebih 23 kilometer dari Jalan Suryalaya IV. Ada banyak pertimbangan sehingga kami memilih destinasi tersebut, dan berenang adalah salah satu alasan terkuat yang saya usulkan kepada Bapuk. Dengan hanya bermodalkan Google Maps, dengan sangat percaya diri kami langsung meluncur ke lokasi. Dan ada satu kejadian unik yang kami temukan dalam perjalanan, ada seorang pengemudi sepeda motor yang tertidur pulas di tengah jalan saat lampu lalulintas menunjukkan warna hijau. Sehingga mengakibatkan beberapa kendaraan di belakangnya membunyikan klakson panjang untuk membangunkan pengemudi tersebut.</p>]]></content><author><name></name></author><category term="blog" /><category term="cerita" /><category term="perjalanan" /><category term="bandung" /><summary type="html"><![CDATA[Berawal dari kecerobohan teman saya, lalu menjadi sebuah ‘keuntungan’ bagi saya. Memang tidak disangka – sangka, hari pertama masuk kuliahnya bisa jadi harus terundur akibat Dia salah memilih hari dalam membeli tiket. Akhirnya, Dia pun harus membeli lagi tiket ke Bandung di hari sebelum Dia masuk kuliah. Lalu keuntungannya untuk saya? Ya, tiket yang sudah terlanjur dia beli sebelumnya diberikannya ke saya secara cuma - cuma untuk menjelajah di kota itu. Loh emangnya bisa ya tiket digunakan orang lain? Jadi teman saya ini tidak menggunakan moda kereta api, melainkan bus travel yang dalam verifikasi keberangkatannya-pun cukup mudah, yaitu dengan hanya memberikan nomor pin yang sudah tertera pada tiket.]]></summary></entry><entry><title type="html">Sang Pangeran dan Janissary Terakhir</title><link href="https://ahnaf.space/blog/sang-pangeran-dan-janissary-terakhir.html" rel="alternate" type="text/html" title="Sang Pangeran dan Janissary Terakhir" /><published>2020-05-18T00:00:00+07:00</published><updated>2020-05-18T00:00:00+07:00</updated><id>https://ahnaf.space/blog/sang-pangeran-dan-janissary-terakhir</id><content type="html" xml:base="https://ahnaf.space/blog/sang-pangeran-dan-janissary-terakhir.html"><![CDATA[<ul>
  <li>Judul Buku : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir</li>
  <li>Pengarang	: Salim A. Fillah</li>
  <li>Penerbit : Pro-U Media</li>
  <li>Tahun Terbit : 2019</li>
  <li>Tebal Halaman : 631 halaman</li>
</ul>

<p>Sang Pangeran dan Janissary Terakhir merupakan sebuah buku fiksi pertama yang ditulis oleh Salim A. Fillah, salah satu dari lebih 12 buku yang pernah beliau tulis. Novel ini adalah buku pertama dari “Tetralogi Sang Pangeran” yang akan mengupas kisah dakwah dan perjuangan Islam di Nusantara. Dengan mengombinasikan perjalanan Nurkandam Pasha  beserta teman – teman <em>Janissary</em>-nya, buku ini menceritakan kisah, kasih, dan juga selisih yang terjadi dalam Perang Diponegoro.</p>

<p>Nurkandam Pasha atau lebih sering dipanggil Basah Nurkandam oleh warga setempat, bersama dengan teman – teman <em>Janissary</em>-nya berlayar menuju Samudra Ilahi (Samudra Hindia) menyeberangi lautan untuk mewujudkan salah satu cita – cita ayahnya, Alemdar Musthafa Pasha, yaitu memberangkatkan pasukan <em>Janissary</em> ke Kepulauan Rempah - Rempah untuk membantu melawan pasukan Eropa yang menindas dan  memperebutkan kekayaan di sana.</p>

<p>Sang Pangeran membaca surat yang gulungannya disimpul dengan cincin perak berukir <em>Tughra</em> Sultan Abdul Hamid I dari Daulah Utsmaniyah yang isinya cerita dari Syaikh Dawud Al-Fathani yang diceritakan oleh Syaikh Abdush Shamad Al-Falimbani bahwa ada yang bertanya kepada beliau seorang ulama muda dari Jawi yang bernama Imam Abdullah Arif Al-Baderani, <em>“Mengapakah Kangjeng Syaikh rajin mengirim risalah penyemangat jihad kepada raja – raja Nusantara, terutama para pemuka Wangsa Mataram di Jawa?”</em></p>

<p>Lalu dijawab oleh Syaikh Abush Shamad Al-Falimbani yang jawabannya sangat penuh akan hikmah, yang salah satu potongan jawabannya, <em>“Sungguh aku berharap agar yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas besar kalian adalah menggenapi syarat-syaratnya agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam. Hidupkanlah jihad. Tegakkan syari’at. Satukanlah ummat.”</em></p>

<p>Novel ini membawa pembaca berimajinasi ke 4 negara, yaitu Turki, <em>Nederland</em>, Arab, dan Indonesia. Penggambaran suasana dalam buku ini juga sangat mendetail, sehingga membuat pembaca mudah dalam mengimajinasikan tiap – tiap adegannya. Di halaman awal buku, dilengkapi daftar nama tokoh yang terlibat dalam buku dengan deskripsi singkatnya yang membantu memudahkan pembaca untuk mengenali tokoh - tokoh dalam cerita. Buku ini sarat akan nasihat, baik yang tersirat maupun juga yang tersurat sehingga bisa menjadi bahan evaluasi dan juga refleksi bagi pembaca. Karena dominan dengan latar belakang Keraton yang tidak luput dengan budaya dan filosofi Jawanya, bersamaan dengan jalannya isi cerita, dijelaskan juga makna dari budaya dan filosofi Jawa tersebut tanpa harus mengalihkan pemahaman pembaca akan jalan cerita.</p>

<p>Namun, tidak jarang diperlukan fokus lebih bagi pembaca untuk mencerna banyak kosakata dan juga nama – nama baru yang mungkin belum familiar dengan pembaca. Selain itu, karena terdapat kesamaan panggilan dalam tokoh utamanya, yaitu Basah Nurkandam dan Basah Katib, pembaca juga harus teliti dalam membedakannya.</p>

<p>Sang Pangeran dan Janissary Terakhir sangat saya rekomendasikan kepada siapapun yang tertarik belajar sejarah, terlebih sejarah Indonesia dan Islam, serta ingin mencoba mendapatkannya dari sudut pandang fiksi.</p>]]></content><author><name></name></author><category term="blog" /><category term="blog" /><category term="buku" /><summary type="html"><![CDATA[Judul Buku : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir Pengarang : Salim A. Fillah Penerbit : Pro-U Media Tahun Terbit : 2019 Tebal Halaman : 631 halaman]]></summary></entry><entry><title type="html">Perjalanan</title><link href="https://ahnaf.space/sajak/perjalanan.html" rel="alternate" type="text/html" title="Perjalanan" /><published>2020-03-23T10:30:00+07:00</published><updated>2020-03-23T10:30:00+07:00</updated><id>https://ahnaf.space/sajak/perjalanan</id><content type="html" xml:base="https://ahnaf.space/sajak/perjalanan.html"><![CDATA[<p><i>dalam perjalanan<br />
aku banyak menemukan<br />
setapak setapak yang mengerikan<br />
tapi ternyata jalan menuju tujuan<br />
simpang terang yang aku kira itu pintasan<br />
namun nyatanya jebakan<br />
ah sialan<br />
<br />
</i></p>

<p><time>Pasar Minggu, 23 Maret 2020</time></p>]]></content><author><name></name></author><category term="sajak" /><category term="perjalanan" /><category term="sajak" /><category term="puisi" /><summary type="html"><![CDATA[dalam perjalanan aku banyak menemukan setapak setapak yang mengerikan tapi ternyata jalan menuju tujuan simpang terang yang aku kira itu pintasan namun nyatanya jebakan ah sialan]]></summary></entry><entry><title type="html">Sosial Media</title><link href="https://ahnaf.space/sajak/sosial-media.html" rel="alternate" type="text/html" title="Sosial Media" /><published>2020-03-23T10:30:00+07:00</published><updated>2020-03-23T10:30:00+07:00</updated><id>https://ahnaf.space/sajak/sosial-media</id><content type="html" xml:base="https://ahnaf.space/sajak/sosial-media.html"><![CDATA[<p><i>sosial media<br />
menjadi panggung untuk bersuara<br />
berbicara di sana bebas, katanya<br />
tak perlu mengeluarkan banyak biaya<br />
suara sudah didengar dunia<br />
banyak - banyakan saja menguasai suara<br />
dengan indikasi tagar di peringkat pertama<br />
propaganda banyak juga dimulai dari sana<br />
halah, persetan orang berkata apa<br />
yang penting aku bisa berkuasa
</i></p>

<p><time>Pasar Minggu, 21 Juni 2020</time></p>]]></content><author><name></name></author><category term="sajak" /><category term="keresahan" /><category term="sajak" /><category term="puisi" /><summary type="html"><![CDATA[sosial media menjadi panggung untuk bersuara berbicara di sana bebas, katanya tak perlu mengeluarkan banyak biaya suara sudah didengar dunia banyak - banyakan saja menguasai suara dengan indikasi tagar di peringkat pertama propaganda banyak juga dimulai dari sana halah, persetan orang berkata apa yang penting aku bisa berkuasa]]></summary></entry><entry><title type="html">Rumah Sejati</title><link href="https://ahnaf.space/sajak/rumah-sejati.html" rel="alternate" type="text/html" title="Rumah Sejati" /><published>2020-03-18T18:30:00+07:00</published><updated>2020-03-18T18:30:00+07:00</updated><id>https://ahnaf.space/sajak/rumah-sejati</id><content type="html" xml:base="https://ahnaf.space/sajak/rumah-sejati.html"><![CDATA[<p><i>biarkan aku lepas<br />
lalu menjadi liar<br />
jangan kandangi aku dengan kotak - kotak itu<br />
jangan belenggu kakiku dengan rantai - rantai buatanmu itu<br />
biarkan aku sendiri<br />
biarkan aku mencari<br />
sebab aku ingin pulang ke rumah yang sejati<br />
dengan arahan langsung dari Sang Ilahi<br /></i></p>

<p><time>Klaten, 29 Desember 2019</time></p>]]></content><author><name></name></author><category term="sajak" /><category term="cinta" /><category term="sajak" /><category term="puisi" /><summary type="html"><![CDATA[biarkan aku lepas lalu menjadi liar jangan kandangi aku dengan kotak - kotak itu jangan belenggu kakiku dengan rantai - rantai buatanmu itu biarkan aku sendiri biarkan aku mencari sebab aku ingin pulang ke rumah yang sejati dengan arahan langsung dari Sang Ilahi]]></summary></entry><entry><title type="html">Beri Ruang Pikiran untuk Berpikir</title><link href="https://ahnaf.space/blog/beri-ruang-pikiran.html" rel="alternate" type="text/html" title="Beri Ruang Pikiran untuk Berpikir" /><published>2019-09-27T11:23:00+07:00</published><updated>2019-09-27T11:23:00+07:00</updated><id>https://ahnaf.space/blog/beri-ruang-pikiran</id><content type="html" xml:base="https://ahnaf.space/blog/beri-ruang-pikiran.html"><![CDATA[<p>Akhir - akhir ini, secara sadar atau tidak sadar banyak sekali masalah yang hadir dan masuk ke dalam pikiran kita. Masalah - masalah itu membuat emosi kita naik dan turun. Masalah - masalah itu pula yang membuat kita mungkin menjadi tidak terkendali. Kita menjadi ingin selalu terlibat di yang bukan ranah kita dan bahkan secara tidak sadar kita sendiri yang membuat masalah menjadi lebih rumit. Sebagai manusia, bukan berarti kita harus diam di saat masalah - masalah menyerang dan mengobrak - abrik hidup kita. Manusiawi jika kita resah dan gelisah ketika banyak sekali masalah yang melanda. Tetapi, kita juga harus bisa berpikir jernih dalam mengelola masalah - masalah tersebut agar dapat terselesaikan bukan malah semakin merumit.</p>

<p>Kalau boleh mengutip ceramahnya Pak Fahruddin Faiz, beliau pernah bilang, <em>‘pikiran - pikiran yang terganggu oleh macem - macem tadi ya masuk, merasuk. Kalau yang masuk jelek - jelek ya efeknya di dirimu juga jelek. Maka, pinter - pinterlah apa yang harus kamu masukkan dan apa yang jangan masuk ke dalam dirimu karena itu menentukkan isi pikiranmu.’</em> Saya sangat setuju dengan beliau, sekarang ini kita bisa dengan sangat mudah mendapatkan segala informasi yang kita butuhkan, bahkan segala yang tidak kita butuhkan-pun bisa dengan mudah kita dapatkan. Banyak hal - hal yang tidak kita butuhkan ikut masuk ke pikiran kita, ikut membentuk diri kita, dan membelokkan pikiran kita sehingga membuat kita lalai dan lupa dengan tujuan kita.</p>

<p>Terlalu banyak informasi yang tidak kita butuhkan yang masuk bisa membuat kita menjadi sibuk dengan hal yang sia – sia. Tidak semua informasi itu kita butuhkan dan perlu kita ketahui. Tidak semua informasi yang kita ketahui itu harus kita tanggapi. Kita perlu memberikan ruang kepada pikiran kita untuk berpikir jernih tentang itu. Tentunya akan sangat sulit jika sangat banyak informasi yang diterima oleh pikiran kita.</p>

<p>Maka dari itu, pilah informasi mana yang bermanfaat untuk kita, dan mana yang tidak. Informasi yang mana yang harus kita tanggapi dan mana yang tidak. Memilah informasi bukan berarti apatis, tetapi jika semua yang tidak kita butuhkan masuk ke dalam pikiran kita, kita bisa dibuat lalai olehnya. Beri ruang kepada pikiran kita untuk berpikir. Pikiran kita butuh ruang untuk berpikir jernih, tanpa diganggu oleh hal – hal yang tidak berguna.</p>]]></content><author><name></name></author><category term="blog" /><category term="keresahan" /><summary type="html"><![CDATA[Akhir - akhir ini, secara sadar atau tidak sadar banyak sekali masalah yang hadir dan masuk ke dalam pikiran kita. Masalah - masalah itu membuat emosi kita naik dan turun. Masalah - masalah itu pula yang membuat kita mungkin menjadi tidak terkendali. Kita menjadi ingin selalu terlibat di yang bukan ranah kita dan bahkan secara tidak sadar kita sendiri yang membuat masalah menjadi lebih rumit. Sebagai manusia, bukan berarti kita harus diam di saat masalah - masalah menyerang dan mengobrak - abrik hidup kita. Manusiawi jika kita resah dan gelisah ketika banyak sekali masalah yang melanda. Tetapi, kita juga harus bisa berpikir jernih dalam mengelola masalah - masalah tersebut agar dapat terselesaikan bukan malah semakin merumit.]]></summary></entry><entry><title type="html">Bibit Kehidupan</title><link href="https://ahnaf.space/sajak/bibit-kehidupan.html" rel="alternate" type="text/html" title="Bibit Kehidupan" /><published>2019-09-22T10:46:38+07:00</published><updated>2019-09-22T10:46:38+07:00</updated><id>https://ahnaf.space/sajak/bibit-kehidupan</id><content type="html" xml:base="https://ahnaf.space/sajak/bibit-kehidupan.html"><![CDATA[<p><i>tanam dalam – dalam<br />
lalu biarkan ia mencari penghidupan<br />
kepada yang memberi kehidupan<br />
agar ia tumbuh dengan kokoh<br />
karena ia tau sumber mutlak kehidupan adalah Dia yang maha menghidupi<br />
<br />
dan biarkan akarnya mencari pijakkan<br />
kepada yang tidak mati<br />
agar ia tidak goyah<br />
karena ia tak lagi sangsi dengan yang ia pijak<br /></i></p>

<p><time>Cijahe Baduy, 15 Juli 2019</time></p>]]></content><author><name></name></author><category term="sajak" /><category term="islam" /><category term="sajak" /><category term="puisi" /><summary type="html"><![CDATA[tanam dalam – dalam lalu biarkan ia mencari penghidupan kepada yang memberi kehidupan agar ia tumbuh dengan kokoh karena ia tau sumber mutlak kehidupan adalah Dia yang maha menghidupi dan biarkan akarnya mencari pijakkan kepada yang tidak mati agar ia tidak goyah karena ia tak lagi sangsi dengan yang ia pijak]]></summary></entry><entry><title type="html">Aku Merasakannya, Lagi</title><link href="https://ahnaf.space/sajak/aku-merasakannya-lagi.html" rel="alternate" type="text/html" title="Aku Merasakannya, Lagi" /><published>2019-09-22T10:46:38+07:00</published><updated>2019-09-22T10:46:38+07:00</updated><id>https://ahnaf.space/sajak/aku-merasakannya-lagi</id><content type="html" xml:base="https://ahnaf.space/sajak/aku-merasakannya-lagi.html"><![CDATA[<p><i>hari ini aku merasakannya<br />
sebuah rasa yang sempat mati sejak lama<br />
mati karena terlantar setelah cedera<br />
tetapi kini aku merasakannya<br />
ya, aku merasakannya</i>
<br />
<time>Pasar Minggu, 30 November 2019</time></p>]]></content><author><name></name></author><category term="sajak" /><category term="sajak" /><category term="puisi" /><category term="cinta" /><summary type="html"><![CDATA[hari ini aku merasakannya sebuah rasa yang sempat mati sejak lama mati karena terlantar setelah cedera tetapi kini aku merasakannya ya, aku merasakannya Pasar Minggu, 30 November 2019]]></summary></entry><entry><title type="html">Aroma Karsa</title><link href="https://ahnaf.space/buku/aroma-karsa.html" rel="alternate" type="text/html" title="Aroma Karsa" /><published>2019-09-17T22:00:00+07:00</published><updated>2019-09-17T22:00:00+07:00</updated><id>https://ahnaf.space/buku/aroma-karsa</id><content type="html" xml:base="https://ahnaf.space/buku/aroma-karsa.html"><![CDATA[<p>Buku yang tebalnya 724 halaman ini membuat saya agak malas ketika ingin membacanya. Tetapi ketika sudah mulai membaca isi dari buku ini, saya berhasil dibuat menjadi <em>page turner</em> oleh Dee Lestari. Buku setebal 724 halaman ini terasa kurang bagi saya yang sangat menikmati ceritanya. Cerita dari novel ini juga sangat memanjakan imajinasi para pembacanya. Terhitung hanya sekadar 3 hari waktu yang saya butuhkan untuk menamatkan buku ini. Saya berharap ‘Aroma Karsa’ adalah cerita awalan dari sebuah <em>sequel</em>.</p>]]></content><author><name></name></author><category term="buku" /><category term="novel" /><category term="fiksi" /><summary type="html"><![CDATA[Buku yang tebalnya 724 halaman ini membuat saya agak malas ketika ingin membacanya. Tetapi ketika sudah mulai membaca isi dari buku ini, saya berhasil dibuat menjadi page turner oleh Dee Lestari. Buku setebal 724 halaman ini terasa kurang bagi saya yang sangat menikmati ceritanya. Cerita dari novel ini juga sangat memanjakan imajinasi para pembacanya. Terhitung hanya sekadar 3 hari waktu yang saya butuhkan untuk menamatkan buku ini. Saya berharap ‘Aroma Karsa’ adalah cerita awalan dari sebuah sequel.]]></summary></entry><entry><title type="html">Orang - Orang Biasa</title><link href="https://ahnaf.space/buku/orang-orang-biasa.html" rel="alternate" type="text/html" title="Orang - Orang Biasa" /><published>2019-07-01T01:14:38+07:00</published><updated>2019-07-01T01:14:38+07:00</updated><id>https://ahnaf.space/buku/orang-orang-biasa</id><content type="html" xml:base="https://ahnaf.space/buku/orang-orang-biasa.html"><![CDATA[<p>Seperti sudah menjadi ciri khasnya, Andrea Hirata yang juga sebagai penulis buku berjudul ‘Laskar Pelangi’ itu berhasil membawa pembacanya masuk ke dalam cerita yang ditulisnya. Dengan menceritakan kisah 10 orang bodoh sebagai tokoh utama pada novel ini, saya berhasil dibuat tertawa, terheran, penasaran, dan kagum olehnya.</p>]]></content><author><name></name></author><category term="buku" /><category term="novel" /><summary type="html"><![CDATA[Seperti sudah menjadi ciri khasnya, Andrea Hirata yang juga sebagai penulis buku berjudul ‘Laskar Pelangi’ itu berhasil membawa pembacanya masuk ke dalam cerita yang ditulisnya. Dengan menceritakan kisah 10 orang bodoh sebagai tokoh utama pada novel ini, saya berhasil dibuat tertawa, terheran, penasaran, dan kagum olehnya.]]></summary></entry></feed>